Jumat, 28 Desember 2012

Analisis Artikel Sosial Emosional Anak Usia Dini



Menganalisis artikel

Artikel
Pendidikan Usia Dini Optimalkan Potensi Anak
Tanggal : 31-07-2012 08:22, dibaca 51 kali.

Merancang waktu bermain dengan anak bukanlah hal yang mudah bagi para orangtua yang waktunya semakin sempit karena kesibukan kerja. Padahal, bermain merupakan bagian dari perkembangan anak yang  tidak bisa dilepas begitu saja, terutama anak usia dini yang sedang memasuki tahap usia emas.

Di usia emas (0-3) tahun anak membutuhkan banyak stimulus agar saraf-safaf di otaknya semakin berkembang sehingga kecerdasannya bisa optimal. Aktivitas yang tepat di usia ini akan mendukung perkembangannya kelak.

Beruntung karena kini sekolah anak usia dini makin banyak sehingga orangtua memiliki pilihan yang lebih beragam. Namun di sisi lain hal ini menimbulkan tantangan tersendiri dalam menentukan sekolah terbaik di antara sekian banyak tawaran.

Para pakar perkembangan anak menuturkan, sekolah yang baik bukan diukur dari bangunan fisiknya saja tapi juga "kurikulumnya". Hendaknya sekolah tidak terlalu menekankan pada aspek kognitif saja tapi juga aspek lain seperti kecerdasan intelektual, emosi, sosial, serta psikomotorik anak.


Karena anak di usia dini masih memerlukan perkembangan motorik, sebaiknya pilih sekolah yang menyediakan fasilitas permainan yang sesuai dengan kebutuhan stimulasi anak.

Salah satu sekolah untuk anak usia dini yang telah berpengalaman lama, KindyROO, bisa menjadi pilihan. Sekolah yang didirikan 30 tahun lalu oleh Margaret Sasse di Melbourne, Australia, ini kini telah hadir di Jakarta, yakni di Kemang Square Jakarta Selatan.

Aktivitas yang dilakukan anak di KindyROO adalah kegiatan bermain yang terarah yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. "Dengan menstimulasi otak anak di usia dini bisa membantu kemampuannya dalam menangkap atau menyerap pelajaran lebih cepat ketika mereka masuk sekolah," kata Paulin, principal di KindyROO Jakarta.

Kegiatan kelas di KindyROO dimulai dengan bernyanyi bersama lalu dilanjutkan dengan berbagai aktivitas menarik di bawah bimbingan para pengajar berpengalaman. “Setiap lagu yang dinyanyikan, setiap permainan yang dimainkan, setiap aktivitas dirancang secara khusus untuk memaksimalkan kemampuan anak untuk belajar,” kata Margareth Sasse, pendiri KindyROO.
Yang menarik selain mendidik anak, orangtua atau pengasuh anak juga bisa ikut terlibat dalam aktivitas anak sehingga mereka mendapat pengalaman cara-cara yang tepat untuk menstimulasi anak di rumah.

Setiap minggunya akan diberikan tema berbeda untuk menjadi panduan belajar. Demikian juga dengan permainan musik. Membiasakan anak bermain musik sejak dini dipercaya sangat penting dampaknya untuk membangun fondasi anak di bidang bahasa, matematika, ritme, dan juga seni.

Seluruh peralatan permainan yang tersedia didesain khusus untuk melatih anak melatih keterampilan motorik kasar, misalnya memanjat, melompat, merangkak, dan sebagainya. "Susunan dan setting alat permainan di tempat kami juga sering diganti untuk memberi tantangan baru," kata Paulin.

Aneka kelas

Untuk pendidikan anak usia dini, KindyROO membuka beberapa kelas mulai dari anak usia 6 minggu hingga di atas 4 tahun.

Kelas yang tersedia untuk bayi usia 6 minggu sampai bayi yang sudah siap merangkak disebut kelas Non-mobile babies ditujukan untuk menstimulasi perkembangan motorik dan sensorik anak. Di kelas ini orangtua juga bisa menghabiskan waktunya bermain bersama bayi. Aktivitas utamanya adalah melatih kekuatan, keseimbangan, dan kesadaran tubuh pada bayi.
“Berbagai macam permainan positif di sini membuat saya tertantang melatih skill motorik anak," kata Deasy, ibu dari Sammy (5,5 bulan) yang memasukkan anaknya di kelas Non-mobile babies.

Kelas selanjutnya adalah mobile babies bagi bayi-bayi yang sudah mulai merangkak. Aktivitas di kelas ini ditujukan untuk merangsang panca indera bayi seperti indera penglihatan dan pendengaran yang akan membantu perkembangan bahasanya.

Kemudian ada kelas untuk bayi yang sudah bisa berjalan hingga dua tahun. Kegiatan-kegiatan di kelas ini lebih difokuskan untuk melatih keterampilan tangan sambil membangun pengenalan bahasa.

Untuk anak yang lebih besar, usia 2-3 tahun, anak-anak diajak untuk lebih mandiri serta melatih konsentrasi anak. Anak-anak juga dilatih mendengarkan instruksi dengan baik dan diperkenalkan konsep kata yang lebih mendalam dari kelas sebelumnya.

Sementara itu untuk kelas anak usia 3-4 tahun anak diajak belajar mengikuti instruksi yang lebih rumit, bekerja sama dalam kelompok, dan juga belajar memecahkan masalah. Terakhir, untuk kelas anak berusia lebih dari 4 tahun, aktivitas yang tersedia dirancang untuk menstimulasi anak agar tidak mengalami kesulitan dalam belajar di kemudian hari.


Analisis :
            Merancang waktu bermain dengan anak bukanlah hal yang mudah bagi para orangtua yang waktunya semakin sempit karena kesibukan kerja. Di usia emas (0-3) tahun anak membutuhkan banyak stimulus agar saraf-safaf di otaknya semakin berkembang sehingga kecerdasannya bisa optimal. Aktivitas yang tepat di usia ini akan mendukung perkembangannya kelak.
Para pakar perkembangan anak menuturkan, sekolah yang baik bukan diukur dari bangunan fisiknya saja tapi juga "kurikulumnya". Hendaknya sekolah tidak terlalu menekankan pada aspek kognitif saja tapi juga aspek lain seperti kecerdasan intelektual, emosi, sosial, serta psikomotorik anak.Karena anak di usia dini masih memerlukan perkembangan motorik, sebaiknya pilih sekolah yang menyediakan fasilitas permainan yang sesuai dengan kebutuhan stimulasi anak.
Salah satu sekolah untuk anak usia dini yang telah berpengalaman lama, KindyROO, bisa menjadi pilihan. Kegiatan kelas di KindyROO dimulai dengan bernyanyi bersama lalu dilanjutkan dengan berbagai aktivitas menarik di bawah bimbingan para pengajar berpengalaman. Yang menarik selain mendidik anak, orangtua atau pengasuh anak juga bisa ikut terlibat dalam aktivitas anak sehingga mereka mendapat pengalaman cara-cara yang tepat untuk menstimulasi anak di rumah.


 

 

 

 

Program Pendidikan dan Pengembangan Usia Dini

Created on Saturday, 21 July 2012 07:37
Written by Super User
Oleh Aja Rowikarim, M.Ag
Menurut Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:
Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Adapun Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. Dengan ruang lingkup PAUD Infant (0-1 tahun) Toddler (2-3 tahun) Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun) Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)
Sedangkan Satuan pendidikan penyelenggara pendidikannya adalah Taman Kanak-kanak (TK) Raudatul Athfal (RA) Bustanul Athfal (BA) Kelompok Bermain (KB) Taman Penitipan Anak (TPA) Sekolah Dasar Kelas Awal (kelas 1,2,3) Bina Keluarga Balita Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
Usia dini (0-5 thn) merupakan usia yang sangat menentukan, dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak. Usia itu sebagai usia  penting bagi pengembangan intelegensi permanen dirinya, mereka juga mampu menyerap informasi yang sangat tinggi.
Informasi tentang potensi yang dimiliki anak usia itu, sudah banyak diketengahkan di media massa dan media elektronik lainnya. Bahkan sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan, pada usia itu memiliki kemampuan intelegensi yang sangat tinggi.
Tetapi kenyataannya, sebagian besar orang tua dan guru tidak memahami akan potensi luar biasa yang dimiliki anak-anak pada usia itu. Keterbatasan pengetahuan dan informasi yang dimiliki orang tua dan guru, menyebabkan potensi yang dimiliki anak tidak berkembang.
Karena itu Pendidikan anak usia dini, prasekolah dan taman kanak-kanak tidak boleh diabaikan atau dianggap sepele. Bahkan pendidikan seorang anak sebaiknya dilakukan sejak anak itu masih berada dalam kandungan.
Menurut data tahun 2001, dari 26,1 juta anak yang ada di Indonesia baru 7,1 juta atau sekira 28% anak yang telah mendapatkan pendidikan. Terdiri atas 9,6% terlayani di bina keluarga bawah lima tahun, 6,5% di taman kanak-kanak, 1,4% Raudhatul Athfal, 0,13% di kelompok bermain, 0,05% di tempat penitipan anak lainnya, 9,9% terlayani di sekolah dasar. Ini menunjukkan, pentingnya Pendidikan anak usia dini, belum mendapatkan perhatian dengan baik.
Kemampuan ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebab dari terhambatnya Pendidikan anak usia dini, sedikitnya pendapatan dan naiknya harga kebutuhan pokok mengharuskan kaum ibu ikut bekerja memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini yang menyebabkan perhatian akan Pendidikan anak usia dini terbengkalai.
Pendidikan anak usia dini , ternyata juga kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan anak usia dini (RPP PAUD) yang mengatur Pendidikan anak usia dini, ternyata belum terlaksana dengan baik. Contoh, terbatasnya jumlah lembaga pendidikan atau program layanan Pendidikan anak usia dini .
Lembaga yang sudah ada pun hanya berstatus lembaga swasta dengan biaya yang relatif mahal, sehingga tidak semua lapisan masyarakat dapat merasakan Pendidikan anak usia dini. Kendala lain, lembaga pendidikan itu tidak memiliki program yang terstruktur, dalam arti tidak adanya keterpaduan antara pendidikan, layanan gizi perawatan atau pengasuhan serta kesehatan.

Di negara lain Pendidikan anak usia dini mendapatkan perhatian dari pemerintah. Seperti halnya di Singapura dan Korea Selatan, hampir seluruh anak-anak usia dini telah mendapatkan pendidikan. Human Development Indeks (HDI) atau tingkat pengembangan sumber daya manusia kedua negara itu jauh di atas Indonesia. Singapura peringkat ke-25, Korea Selatan peringkat ke-27, sedangkan Indonesia hanya berada di peringkat 110 dari 173 negara.
Masalah itu agar mendapatkan perhatian dari pemerintah, masyarakat, dan instansi lainnya. Lembaga Pendidikan anak usia dini agar mendapat prioritas dari pemerintah, tidak hanya dari pengadaan sarana, tapi juga kurikulum dan program yang terstruktur.
Faktor ekonomi adalah salah satu yang menjadi penyebab terhambatnya pendidikan. Pendidikan yang murah merupakan salah satu cara agar Pendidikan anak usia dini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Sarana penunjang lain yang tak langsung ikut berpengaruh terhadap Pendidikan anak usia dini juga agar menjadi perhatian. Sarana kesehatan seperti posyandu, berpengaruh terhadap peningkatan gizi anak, gizi mempengaruhi tingkat kecerdasan anak atau IQ. Jika anak mendapatkan gizi yang buruk maka berisiko kehilangan IQ 20-13 poin, kini jumlah anak yang kekurangan gizi mencapai 1,3 juta, berarti potensi kehilangan IQ anak di negara ini 22 juta poin.
Organisasi yang terkait yang berperan dalam pemberdayaan masyarakat seperti organisasi pemberdayaan perempuan, keluarga atau anak perlu mengadakan program yang menunjang bagi pemecahan masalah itu. Organisasi itu agar dapat memberikan pendidikan  dan informasi kepada para orang tua dan masyarakat, tentang pentingnya Pendidikan anak usia dini.
Komponen lain yang paling berpengaruh, keluarga dan masyarakat. Keluarga dan masyarakat berperan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Karena itu, keluarga dan masyarakat harus dapat memberikan contoh baik, karena pada dasarnya seorang anak akan senantiasa mengikuti atau mencontoh orang di sekitarnya.
Orang tua pun harus mengembangkan potensi diri dengan cara memperkaya ilmu pengetahuan dan informasi, melalui media masa ataupun media elektronik. Terutama informasi dan ilmu pengetahuan terkini, sehingga orang tua bisa menjadi pusat informasi (tempat bertanya) yang baik bagi anak mereka.
Pendidikan anak usia dini da pat berjalan baik jika semua pihak dapat saling bekerja sama. Sebab, adalah modal dasar bangsa untuk membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas kelak, dan diharapkan akan mampu bersaing dengan bangsa lain. Faktor ekonomi adalah salah satu yang menjadi penyebab terhambatnya pendidikan.

Analisis:
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Tetapi kenyataannya, sebagian besar orang tua dan guru tidak memahami akan potensi luar biasa yang dimiliki anak-anak pada usia itu. Keterbatasan pengetahuan dan informasi yang dimiliki orang tua dan guru, menyebabkan potensi yang dimiliki anak tidak berkembang dan juga kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Di negara lain Pendidikan anak usia dini mendapatkan perhatian dari pemerintah. Seperti halnya di Singapura dan Korea Selatan, hampir seluruh anak-anak usia dini telah mendapatkan pendidikan. Human Development Indeks (HDI) atau tingkat pengembangan sumber daya manusia kedua negara itu jauh di atas Indonesia.
Untuk itu perlu kerjasama keluarga dan masyarakat berperan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Karena, keluarga dan masyarakat harus dapat memberikan contoh baik, karena pada dasarnya seorang anak akan senantiasa mengikuti atau mencontoh orang di sekitarnya. Agar mampu membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas kelak, dan diharapkan akan mampu bersaing dengan bangsa lain.











“PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL AUD”

“PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL AUD”

            Dalam praktik pendidikan anak usia dini untuk pengembangan social-emosional dilandasi tiga pertimbangan yang pertama kesesuaian usia yaitu dalam mengembangkan social emosional disesuaikan dengan usia anak jika tidak disesuaikan dengan usia anak maka akan sulit untuk mengembangkan social emosional anak dengan baik karena anak bersifat imitasi, mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan. Yang kedua kesesuaian individual yaitu antara individu dengan individu yang lain harus disesuaikan dalam mengembangkan social emosional anak, karena jika tidak disesuaikan akan terjadi kesenjangan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Dan pertimbangan yang ketiga kesesuaian budaya/ latar belakang keluarga yaitu latar belakang budaya dan keluarga sangat mempengaruhi perkembangan social emosional anal karena anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
            Anak usia dini tiga tahun menunjukkan tingkah laku menentang kemauan ibunya. Sukar diatur di bandingkan dengan usia sebelumnya itu disebabkan karena anak usia dini  pada masa awal kanak-kanaknya, fase ini merupakan saat ketidakseimbangan dimana anak mudah terbawa ledakan-ledakan emosional sehingga sulit di bimbing diarahkan.(Menurut Hurlock perkembangan emosi ini mencolok pada anak usia 2,5 thn – 3,5 thn dan 5,5 thn -6,5 thn).
            Pelayanan yang harus dilakukan dalam melayani tingkah laku anak tersebut, sebaiknya dilakukan dengan cara mendidik yang permisif atau demokratis dan disertai dengan rasa penuh kasih sayang kepada anak karena apabila pelayanan yang dilakukan dengan cara otoriter maka akan mendorong perkembangan emosi kecemasan dan rasa takut pada anak. Contoh pelayanannya seperti, Mengajarkan pengenalan emosi pada anak, Menanggapi perasan anak, Melatih pegendalian diri anak, Melatih pengelolaan emosi anak, Menerapkan disiplin dengan konsep empati pada anak, Melatih keterampiln berkomunikasi anak.
            Dalam Perkembangan emosi akan berkaitan dengan dimensi perkembangan yang lainnya. keterkaitan perkembangan emosi tersebut adalah kaitan perkembangan emosi dengan tingkah laku berfikir, Kaitannya adalah Kemampuan seseorang  dalam mengelola emosi negatif ,kemampuan ini sangat penting bagi pencapaian tugas-tugas perkembangan  social emosional. Yang kedua kaitannya dengan Tingkah laku social, Kaitannya adalah apabila emosi seseorang berlebihan maka dapat mempengaruhi proses sosiolisasi seseorang dengan individu lain dan tidak akan berjalan dengan baik maka dapat menghambat proses sosialisasi. Dan yang ketiga kaitannya dengan tingkah laku moral, Kaitan dengan moral adalah apabila tingkah laku moral tidak terkontrol maka moral yang ditunjukkan tidak baik, karena tidak dapat membedakan mana yang baik, dan buruk. Sikap takut,malu-malu  agresif dapat merupakan akibat dari ketegangan emosi.
            Pengembangan social-emosional merupakan suatu proses yang panjang dan kompleks karena Suatu keadaan yang kompleks serta menyeluruh yang dapat berupa perasaan atau pikiran yang di tandai oleh perubahan biologis yang muncul dari perilaku seseorang dalam jangka waktu yang lama. Contohnya: Disaat peristiwa banjir dan gempa bumi terjadi, maka akan timbul perasaan emosi seseorang dan akibat peristiwa tersebut akan terjadi gerakan reflex atau seseorang akan terkejut dan tubuh akan tegang saat bertatap muka dengan orang lain, kejadian ini akan menyebabkan ketakutan dan kecemasan yang lama pada diri individu yang tidak bisa mengembangkan social-emosionalnya.
            Beberapa strategi yang dapat di lakukan guru/ pendidik anak usia dini dalam pengembangan social-emosional anak usia dini adalah Bermain dan bekerjasama. Contoh: guru mengajak anak bermain bersama-sama, dengan anak bermain bersama maka akan terjalin sosialisasi anak dengan temannya di saat anak mau berbagi dengan temannya, Berdialog, bernegosiasi. Contoh: disaat bermain anak berkomunikasi dengan teman sebayanya dan bernegosiasi, Model perilaku sosial. Contoh: Guru sebagai model dalam pengembangan sosial emosional anak usia dini, karena anak usia dini cendrung meniru dan melakukan tingkah laku gurunya, jadi sebagia pendidik harus mejadi model yang baik untuk siswanya. Latihan menunjukkan perhatian. Contoh:Guru mengajarkan anak memperhatikan orang lain, misalnya seorang anak kehilangan pensil, dan anak yang lain memiliki pensil kepada temannya, dengan demikian akan timbul sikap empati terhadap orang lain. Penguatan prilaku social, Contoh:Guru harus memberikan penguatan kepada anak, karena itu dapat mengembangkan sosial emosional anak, misalnya anak melakukan perbuatan yang baik terhadap temannya, seorang guru harus memuji pernuatan anak tersebut, agar anak itu melakukan perbuatan yang baik tersebut seterusnya.
            Anak usia dini menunjukkan perkembangan emosional yang khas, Kekhasan perkembangan emosional dari segi bentuk emosi yang terjadi pada awal masa kanak -kanak yang di kemukakan oleh Hurlock adalah Amarah. Marah sering terjadi sebagai reaksi terhadap frustasi, sakit hati dan merasa terancam karena apa yang hendak di capai itu tidak dapat tercapai . Contoh: Anak akan marah apabila ia sedang bermain dengan temanya maka mainan itu diambil oleh temannya maka mainan itu diambil oleh temannya maka ia akan marah, maka timbul lah reaksi sakit hatinya, pada masa ini anak masih bersifat egosentris, anak ingin menang sendiri.
Analisis :
            Dalam praktik pendidikan anak usia dini untuk pengembangan social-emosional dilandasi tiga pertimbangan yang pertama kesesuaian usia yaitu dalam mengembangkan social emosional disesuaikan dengan usia anak jika tidak disesuaikan maka akan sulit untuk mengembangkan social emosional dengan baik karena anak bersifat imitasi. Yang kedua kesesuaian individual yaitu antara individu dengan individu yang lain harus disesuaikan dalam mengembangkan social emosional anak. Dan yang ketiga kesesuaian budaya/ latar belakang keluarga yaitu latar belakang budaya dan keluarga sangat mempengaruhi perkembangan social emosional anak karena anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
                        Pelayanan yang harus dilakukan dalam melayani tingkah laku anak tersebut, sebaiknya dilakukan dengan cara mendidik yang permisif atau demokratis dan disertai dengan rasa penuh kasih sayang kepada anak karena apabila pelayanan yang dilakukan dengan cara otoriter maka akan mendorong perkembangan emosi kecemasan dan rasa takut pada anak.
Dalam Perkembangan emosi akan berkaitan dengan dimensi perkembangan yang lainnya. keterkaitan perkembangan emosi tersebut adalah kaitan perkembangan emosi dengan tingkah laku berfikir dalam mengelola emosi negatif . Kemampuan ini sangat penting bagi pencapaian tugas-tugas perkembangan  social emosional. Yang kedua kaitannya dengan Tingkah laku social, apabila emosi seseorang berlebihan maka dapat mempengaruhi proses sosiolisasi seseorang dengan individu lain dan tidak akan berjalan dengan baik maka dapat menghambat proses sosialisasi. Dan yang ketiga kaitannya dengan tingkah laku moral, apabila tingkah laku moral tidak terkontrol maka moral yang ditunjukkan tidak baik, karena tidak dapat membedakan mana yang baik, dan buruk. Sikap takut,malu-malu  agresif dapat merupakan akibat dari ketegangan emosi.
Beberapa strategi yang dapat di lakukan guru/ pendidik anak usia dini dalam pengembangan social-emosional anak usia dini adalah Bermain dan bekerjasama yaitu guru mengajak anak bernegosiasi, bersosialisai, mengajak anak berkomnikasi dengan teman sebayanya, memberi peringatan perilaku social, membantu teman dalam kesulitan bermain dan lain sebagainya.













Mengamati dan Menganalisis Prilaku Sosial Emosional Aud
Foto
(Lihat dari kiri ke à kanan )
     
                                    1                                                                           2                                         
      
                                      3                                                                          4                                              

Kronologi Cerita
Ketika berada di diruang tamu Chece dan Resha asik melihat melihat cerita bergambar di majalah Bobo.  Mereka awalnya melihat gambar tersebut bersama-sama dan setelah itu Resha membalik lembaran dengan cepat karena merasa telah memahami gambar tersebut. Akan tetapi, Chece yang melihat gambar tersebut dengan teliti membuat dia begitu lama melihat gambar yang ada di majalah.
 Namun, karena Resha merasa Chece begitu lambat melihat gambar tersebut kemudian Resha menarik majalah tersebut. Saat itu Chece pun tidak mau kalah, chece menarik kembali majalah hingga Resha berbuat kasar yaitu menarik dan memukul chece degan tangannya. Ketika itu chece pun tidak mau kalah, chece juga membalas kembali pukulan yang di berikan Resha.
            Dikarenakan umur resha yang lebih besar 1 tahun di banding chece, resha pun tak mau dikalahkan begitu saja oleh chece yang umurnya kecil dari dirinya. Kemudian resha menarik majalah bobo tersebut dengan lebih kuat lagi hingga chece terjatuh dan menangis. Chece menangis bukan karena kalah tetapi sedih melihat majalah kesukaannya yang robek.

Penyebab terjadi
            Resha yang tidak bersabar dan terlalu egois dalam malihat cerita bergambar sehingga tidak mempedulikan adiknya yang terlalu telilti melihat gambar-gambar tersebut. Dan kemudian terjadilah pertengkaran, dimana keduanya tidak mau mengalah satu sama lain.

Cara Mengatasi
            Menurut saya cara mengatasi kronologi pertengkaran Anak Usia Diatas berupa memberi pengajaran dari orang tua maupun guru bagaimana cara bersosialisasi yang baik. Biasanya anak usia dini melakukan  sesuatu itu sesuka hatinya jadi agar anak tau bahwa sesuatu yang mereka lakukan itu benar atau tidaknya kita sebagai calon ibu atau pendidik berupaya memberitahu cara-cara besosialisasi yang baik. Seperti : bagaimana bersabar, menghargai teman, dan menjaga perbatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan anak usia dini dalam barmain.
            Dalam memberitahu hal-hal tersebut, diperlukan berbagai strategi agar anak terbiasa dengan kebiasaan baik yang diajari padanya. Seperti : memberi penguatan, motivasi dan hukuman. Hukuman disini bukan bersifat ortoriter akan tetapi dengan diberikan hukuman ini agar anak mengetahui konsep yang baik dalam berteman. Sehingga dengan itu anak merasa bersalah jika melakukan hal yang tidak baik dalam berteman.
            Disamping itu perlu juga kolaborasi antara orang tua dan guru agar sosial emosional anak dalam berteman menjadi lebih baik. Karena, anak tidak selalu dirumah dan anak juga tidak selalu menghabiskan waktunya disekolah. Jadi dengan kolaborasilah orang tua dan guru dapat berkerjasama dalam menamkan social emosional yang baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar